Home > Aktivitas Merapi > Tanya-Jawab Imajiner Seputar Erupsi Freatik Gunung Merapi

Tanya-Jawab Imajiner Seputar Erupsi Freatik Gunung Merapi

Tanya (T): apa yang terjadi di Gunung Merapi pada Minggu pagi 20 April 2014 kemarin? Mengapa terjadi hujan debu?

Jawab (J): kemarin Gunung Merapi mengalami peristiwa hembusan atau yang secara teknis dinamakan erupsi freatik. Erupsi freatik Merapi berlangsung pada Minggu 20 April 2014 pukul 04:26 WIB yang berlangsung selama 20 menit kemudian. Erupsi ini menyemburkan material vulkanik dalam wujud kerikil, pasir dan debu bersama dengan gas-gas vulkanik ke udara hingga ketinggian tertentu sebagai kolom letusan (asap) yang sempat teramati dari desa Sewukan. Kolom tersebut lantas berjatuhan kembali ke permukaan Bumi.

T : wilayah mana saja yang terkena dampak peristiwa ini?

J : material kerikil dan bongkah yang lebih besar hanya berjatuhan di sekitar puncak, sementara pasir berjatuhan di tempat yang sedikit lebih jauh yakni di lereng dan kaki gunung. Sedangkan debunya tersebar jauh lebih luas mengikuti hembusan angin regional. Desa-desa di sekujur lereng Gunung Merapi yang dilaporkan mengalami hujan debu dan pasir adalah desa Glagaharjo, Balerante, Tegalmulyo, Kepurun, Sindumartani, Kaliurang, Hargobinangun, Sukoharjo, Jerukagung, Banyudono, Keningar, Krinjing, Sewukan dan Tlogolele. Sementara jika kita fokus pada debunya saja, erupsi freatik Merapi kali ini menghasilkan hujan debu tipis di Kabupaten Sleman, kota Yogyakarta, Kabupaten Bantul (sebagian), Kabupaten Kulonprogo (sebagian), Kabupaten Purworejo (sebagian) dan bahkan menjangkau Kabupaten Kebumen. Dengan demikian debu vulkanik erupsi freatik ini menyebar ke arah selatan-barat daya-barat hingga sejauh lebihd ari 100 km dari Gunung Merapi.

T : apa itu erupsi freatik?

J : erupsi freatik adalah erupsi (letusan gunung berapi) yang ditenagai dan didominasi oleh uap air. Jadi erupsi ini melepaskan uap air bertekanan tinggi dalam jumlah besar secara mendadak setelah uap air tersebut berhasil menembus (menjebol) sumbatan yang menghalanginya. Karena tekanannya yang tinggi, maka uap air ini sanggup menggerus dan melepaskan butir-butir kerikil, pasir dan debu di sepanjang dinding saluran magma (diatrema) yang dilintasinya. Sehingga uap air yang tersembur pun bercampur dengan material vulkanik dalam bentuk kerikil, pasir dan debu.

T : apa bedanya erupsi freatik dengan erupsi gunung berapi pada umumnya ?

J : mungkin yang dimaksud erupsi pada umumnya adalah erupsi yang menghasilkan awan panas (wedhus gembel) dan lava disertai kepulan debu vulkanik ya? Jadi begini, pada dasarnya ada tiga jenis erupsi yang bisa dijumpai pada gunung berapi yang sedang menanjak aktivitasnya. Yakni erupsi freatik, freatomagmatik dan magmatik. Erupsi freatik ditenagai oleh uap air, yang berasal dari air bawah tanah yang mengalami pemanasan intensif oleh sumber panas tertentu. Sementara erupsi freatomagmatik mirip dengan erupsi freatik namun sebagian tenaganya berasal dari magma segar yang sedang bergerak naik. Dan erupsi magmatik sama sekali berbeda dari keduanya karena ditenagai sepenuhnya oleh magma segar yang sudah keluar di permukaan Bumi dan menghasilkan lava maupun awan panas. Jadi perbedaannya terletak pada sumber tenaganya, apakah uap air ataukah magma segar.

Gambar 1. Perbandingan ketampakan antara erupsi freatik dengan erupsi magmatik. Atas: erupsi freatik Merapi pada 10 Maret 2014 diabadikan dari arah selatan. Nampak asap (kolom erupsi) menghembus ke atas dan kemudian hanyut ke arah timur sembari menurunkan debunya (sebagai hujan debu) di lereng timur. Bawah: salah satu erupsi magmatik di Gunung Sinabung yang terjadi pada 30 Desember 2013. Perhatikan bahwa asap (kolom erupsi)-nya jauh lebih pekat dan lebih bergumpal-gumpal. Perhatikan juga adanya bagian asap pekat yang sedang menuruni lereng sebagai awan panas (wedhus gembel). Sumber: Bambang Mertani, 2014; Badan Geologi, 2014.

Gambar 1. Perbandingan ketampakan antara erupsi freatik dengan erupsi magmatik. Atas: erupsi freatik Merapi pada 10 Maret 2014 diabadikan dari arah selatan. Nampak asap (kolom erupsi) menghembus ke atas dan kemudian hanyut ke arah timur sembari menurunkan debunya (sebagai hujan debu) di lereng timur. Bawah: salah satu erupsi magmatik di Gunung Sinabung yang terjadi pada 30 Desember 2013. Perhatikan bahwa asap (kolom erupsi)-nya jauh lebih pekat dan lebih bergumpal-gumpal. Perhatikan juga adanya bagian asap pekat yang sedang menuruni lereng sebagai awan panas (wedhus gembel). Sumber: Bambang Mertani, 2014; Badan Geologi, 2014.

T : apa bedanya erupsi freatik dengan hembusan ?

J : keduanya merupakan istilah berbeda dari fenomena yang sama. Kosakata hembusan lebih sering dipakai untuk mendeskripsikan erupsi freatik berskala kecil sehingga hanya menghasilkan semburan yang didominasi warna putih, sebagai pertanda hampir seluruh produk erupsinya adalah gas yang didominasi uap air. Sementara kosakata erupsi freatik digunakan untuk menggambarkan semburan yang tak lagi berwarna putih, namun abu-abu atau lebih gelap lagi karena telah disertai komponen material vulkanik seperti kerikil, pasir dan debu dalam jumlah signifikan.

T : bagaimana kita bisa meyakini bahwa yang terjadi di Gunung Merapi kemarin adalah erupsi freatik dan bukannya erupsi magmatik ?

J : parameter yang paling sederhana adalah berdasarkan pada suhu material hasil erupsi. Pada erupsi freatik, suhu material hasil erupsinya rendah karena pada dasarnya sumber tenaganya hanya uap air bertekanan tinggi. Meski uap air tersebut juga bersuhu tinggi, sehingga disebut uap air superpanas (superheated steam), namun tak sanggup memanaskan material hasil erupsi hingga suhu tinggi yang setara dengan suhu lava. Berbeda dengan material hasil erupsi magmatik yang suhunya cukup tinggi setara dengan suhu lava pada umumnya. Dalam salah satu pengukuran yang dilakukan BPPTKG (Balai Penelitian dan Pengembangan Teknik Kebencanaan Geologi) sebagai institusi pemantau Gunung Merapi, diketahui bahwa material hasil erupsi freatik yang telah diendapkan sehari sebelumnya hanya bersuhu 200 derajat Celcius. Bandingkan dengan material hasil erupsi magmatik, yang juga telah diendapkan selama sehari pula, yang masih bersuhu 600 derajat Celcius. Untuk ukuran gunung berapi, suhu material hasil erupsi freatik tergolong rendah.

T : tadi disebutkan “dalam salah satu pengukuran BPPTKG.” Seberapa sering sih peristiwa erupsi freatik Gunung Merapi terjadi ?

J : cukup sering. Jika keseluruhan peristiwa hembusan dan erupsi freatik dihitung, maka semenjak 2011 hingga sekarang (April 2014) telah terjadi lebih dari 80 kali erupsi. Jika dihitung semenjak Juli 2013, telah terjadi sedikitnya 6 peristiwa erupsi freatik yang tergolong besar dalam 9 bulan terakhir, atau rata-rata 1 peristiwa erupsi freatik yang tergolong besar setiap 1,5 bulan. Ke-enam erupsi tersebut adalah erupsi freatik 22 Juli 2013, 18 November 2013, 12 Desember 2013, 10 Maret 2014, 27 Maret 2014 dan yang terakhir 20 April 2014.

T : wow, ternyata cukup sering ya? Dalam beberapa artikel yang dapat dipercaya, sering ditulis bahwa erupsi freatik merupakan babak pendahuluan dari erupsi magmatik. Atau dengan kata lain, semburan uap air dan debu tersebut akan terus berlanjut sehingga pada akhirnya akan berpuncak pada keluarnya lava dan awan panas. Bagaimana dengan erupsi freatik Merapi ?

J : ya, umumnya erupsi freatik memang terus meningkat untuk kemudian disusul erupsi magmatik. Pola tersebut dapat kita lihat misalnya di Gunung Sinabung (Sumatra Utara) semenjak mengalami peningkatan aktivitas pada September 2013 dan berpuncak dengan terbentuknya kubah lava pada Desember 2013. Jadi sepanjang September hingga November 2013 Gunung Sinabung boleh dikata hanya mengalami erupsi freatik. Namun harus digarisbawahi bahwa erupsi freatik yang lantas disusul dengan erupsi magmatik ini hanya terjadi bila sumber panasnya berupa magma segar. Sebaliknya, sumber panas yang memberikan tenaga erupsi freatik Gunung Merapi diyakini bukan magma segar, berdasarkan penelitian BPPTKG sejauh ini.

T : sebentar, istilah magma segar berulangkali disebut-sebut. Apa itu magma segar ?

J : magma segar adalah magma yang berasal dari dapur magma dalam, yang di Gunung Merapi terletak pada kedalaman hingga 31 km di bawah puncak Merapi. Menjelang terjadinya letusan, magma segar akan selalu bergerak naik menuju kantung magma dangkal yang ada di bawah/di dasar sebuah gunung berapi. Magma segar senantiasa bersuhu tinggi dan menjadi penanda bagi periode letusan terbaru pada sebuah gunung berapi. Lawan katanya adalah magma tua, yakni magma sisa-sisa periode letusan sebelumnya yang belum sempat dimuntahkan ke permukaan sehingga masih tertinggal di dalam saluran magma (diatrema). Magma tua selalu bersuhu lebih rendah dibanding magma segar. Perbedaan lainnya, magma tua selalu menunjukkan tanda-tanda telah mulai membeku membentuk butiran-butiran batu, sementara magma segar tidaklah demikian.

Gambar 2. Gambaran kartun sederhana yang memperlihatkan perbedaan mekanisme erupsi freatik yang ditenagai uap air (atas) dan magma segar (bawah). Pada erupsi yang ditenagai uap air, sumber panas (5) adalah gas vulkanik panas yang terlepas dalam jumlah besar namun terhalangi keluar dari kawah akibat sumbatan kubah lava (3) sehingga memanaskan air bawah tanah disekelilingnya (2) hingga menjadi uap panas yang terakumulasi dan bertekanan tinggi (4). Campuran uap dan gas vulkanik panas bertekanan tinggi lantas menjebol bagian kubah lava di titik terlemahnya dan menyembur sebagai asap (kolom erupsi) yang membawa serta material produk erupsi. Begitu uap dan gas vulkanik telah keluar semua maka erupsi pun berhenti. Sebaliknya erupsi freatik yang ditenagai magma segar, sumber panasnya adalah magma segar (5) yang sedang menanjak naik hingga memanaskan air bawah tanah di dasar kubah lava. Setelah uap dan material erupsi freatik tersembur keluar melalui bagian kubah lava yang lemah, magma segar terus bergerak naik sehingga erupsi freatik terus terjadi berulang-ulang dengan intensitas kian meningkat. Pada puncaknya magma segar akhirnya benar-benar keluar di permukaan Bumi melalui kawah, menghasilkan lava dan awan panas. Sumber: Sudibyo, 2014.

Gambar 2. Gambaran kartun sederhana yang memperlihatkan perbedaan mekanisme erupsi freatik yang ditenagai uap air (atas) dan magma segar (bawah). Pada erupsi yang ditenagai uap air, sumber panas (5) adalah gas vulkanik panas yang terlepas dalam jumlah besar namun terhalangi keluar dari kawah akibat sumbatan kubah lava (3) sehingga memanaskan air bawah tanah disekelilingnya (2) hingga menjadi uap panas yang terakumulasi dan bertekanan tinggi (4). Campuran uap dan gas vulkanik panas bertekanan tinggi lantas menjebol bagian kubah lava di titik terlemahnya dan menyembur sebagai asap (kolom erupsi) yang membawa serta material produk erupsi. Begitu uap dan gas vulkanik telah keluar semua maka erupsi pun berhenti. Sebaliknya erupsi freatik yang ditenagai magma segar, sumber panasnya adalah magma segar (5) yang sedang menanjak naik hingga memanaskan air bawah tanah di dasar kubah lava. Setelah uap dan material erupsi freatik tersembur keluar melalui bagian kubah lava yang lemah, magma segar terus bergerak naik sehingga erupsi freatik terus terjadi berulang-ulang dengan intensitas kian meningkat. Pada puncaknya magma segar akhirnya benar-benar keluar di permukaan Bumi melalui kawah, menghasilkan lava dan awan panas. Sumber: Sudibyo, 2014.

T : oke, jika erupsi freatik Merapi tidak disebabkan oleh magma segar, lantas apa penyebabnya ?

J : ada banyak faktor. Salah satunya jumlah air bawah tanah yang terakumulasi di dekat sumber panas. Air bawah tanah ini selalu berasal dari air permukaan yang meresap ke dalam tubuh gunung. Dan air permukaan selalu berasal dari curah hujan yang tinggi. Maka tingginya curah hujan menjadi salah satu faktor pemicu yang meningkatkan potensi erupsi freatik Merapi. Meski harus digarisbawahi bahwa setiap curah hujan yang tinggi tidak selalu berlanjut dengan erupsi freatik Merapi. Misalnya curah hujan yang tinggi sepanjang akhir Desember 2013 ternyata tak diikuti erupsi freatik.

Pada salah satu pengukuran BPPTKG dijumpai bahwa menjelang erupsi freatik 18 November 2013, kadar gas CO2 (sebagai salah satu komponen gas vulkanik) membumbung sangat tinggi hingga mencapai hampir 70 %. Kadar ini sebanding dengan kadar gas yang sama jelang peristiwa 26 Oktober 2010 (awal mula Letusan Merapi 2010). Padahal dalam kondisi normal, kadar gas CO2 Merapi hanya berkisar 10 %. Tingginya kadar CO2 menunjukkan terlepasnya gas ini dalam jumlah besar dari kantung magma dangkal Merapi. Karena berasal dari kantung magma dangkal, maka suhu gas ini tergolong tinggi sehingga bisa memerankan diri menjadi sumber panas bagi erupsi freatik. Jadi singkatnya, erupsi freatik Merapi ditenagai oleh gas CO2 panas yang terlepas dari kantung magma dangkal oleh suatu sebab tanpa disertai gerakan magma segar. Gas tersebut lantas memanaskan air bawah tanah menjadi uap air yang terjebak di kedalaman sehingga lama-kelamaan tekanannya cukup tinggi dan sanggup menjebol batuan dan magma tua yang menutupi jalannya menuju ke kawah.

T : sebentar, koq bisa yakin bener kalau sumber tenaga erupsi freatik Merapi bukanlah magma segar?

J : hal itu berdasarkan pada dinamika kegempaan dan deformasi Merapi. Kalau erupsi freatik ditenagai oleh magma segar, maka akan terjadi gempa vulkanik dalam jumlah besar (di atas normal) khususnya gempa vulkanik dalam (gempa VTA. Gempa vulkanik dalam hanya terjadi jika magma segar bergerak naik menuju kantung magma dangkal. Jika magma segar telah mencapai kantung magma dangkal dan mulai mengisinya, maka kantung magma akan menggelembung dan bakal diikuti dengan terjadinya deformasi dalam wujud pembengkakan (inflasi) tubuh gunung. Pengukuran kegempaan dan deformasi Merapi oleh BPPTKG justru menunjukkan hal berbeda. Gempa vulkanik dalam berjumlah sangat sedikit, nyaris tak terdeteksi dan masih berada dalam nilai rata-rata normal. Demikian halnya deformasi, baik diukur dengan tiltmeter (pengukur kemiringan lereng) maupun EDM (electronic distance measurement, pengukur jarak tunjam) pun masih tetap berada dalam rata-rata normal.

Mengapa sumber tenaganya pada saat ini diyakini adalah gas CO2? Selain hasil pengukuran yang menunjukkan kadar gas CO2 sangat tinggi, pasca erupsi freatik juga dijumpai terdengarnya suara blazer (desisan gas) dari arah kubah lava 2010 yang menjadi lokasi dimana erupsi-erupsi freatik Merapi selama ini terjadi.

T : oke, jika bukan disebabkan oleh magma segar, bagaimana gas CO2 bisa terlepas dalam jumlah besar sehingga memberikan tenaga bagi erupsi freatik Merapi ?

J : sejauh yang bisa dipahami hingga saat ini, gas CO2 Merapi terlepas dalam jumlah besar akibat usikan terhadap kantung magma dangkal Merapi. Usikan tersebut bisa berupa usikan internal (berasal dari perubahan karakter magma) maupun eksternal (berasal dari luar kantung magma). Salah satu usikan eksternal yang ditengarai turut berperan adalah getaran yang disebabkan oleh gempa tektonik jauh, khususnya gempa-gempa tektonik kuat (magnitudo > 5 skala Richter) yang bersumber pada titik-titik manapun di sepanjang lepas pantai selatan pulau Jawa. Dengan mekanisme yang belum sepenuhnya dipahami, getaran gempa tersebut entah bagaimana membuat kantung magma dangkal terguncang sehingga gas CO2-nya terlepas dalam jumlah besar. Dari enam peristiwa erupsi freatik besar dalam 9 bulan terakhir, tiga diantaranya didahului oleh gempa tektonik jauh (yakni erupsi freatik 18 November 2013, 10 Maret 2014 dan 20 April 2014).

Namun seperti halnya curah hujan, harus digarisbawahi bahwa setiap gempa tektonik jauh tidak selalu berlanjut dengan erupsi freatik Merapi. Contoh paling gamblang adalah pada kejadian gempa Kebumen 25 Januari 2014. Pasca gempa tersebut ternyata Gunung Merapi justru absen dari erupsi freatik hingga lebih dari sebulan kemudian.

T : oke, sedikit-sedikit saya sudah bisa mulai memahami erupsi freatik Merapi. Pertanyaannya, apakah erupsi freatik ini tak bisa diramalkan sebelum benar-benar terjadi, sebagaimana yang telah sukses dilakukan dalam kejadian erupsi magmatik?

J : harapannya sih bisa dideteksi dan ditetapkan tanda-tanda awal (perkursor)-nya. Namun dalam praktiknya, sayangnya tidak demikian. Status aktivitas sebuah gunung berapi di Indonesia ditegakkan atas dasar kegiatan seismik (kegempaan), deformasi dan kimianya. Dari sisi seismik, nyaris tiada tanda awal yang jelas dan tegas yang menunjukkan tanda-tanda awal sebuah erupsi freatik dibanding kondisi sesimik rata-rata normal. Dengan kata lain, tidak terjadi peningkatan gempa vulkanik yang tegas sebelum terjadinya erupsi freatik. Demikian halnya dari sisi deformasi, juga tiada tanda yang jelas dan tegas. Sebelum dan sesudah erupsi freatik pun nilai deformasi Gunung Merapi tetap berada dalam rata-rata normal. Dari sisi kimia, memang terdapat peningkatan komponen gas tertentu dalam hal ini gas CO2-nya. Namun harus diingat bahwa pengukuran geokimia Gunung Merapi mengandung problem teknis tersendiri bila dibandingkan pengukuran seismik maupun deformasi. Sehingga pengukuran geokimia tak bisa berlangsung secara runtun dan dalam waktu nyata (realtime) dibanding pengukuran seismik maupun deformasi.

Inilah garis tebal yang membedakan dengan erupsi magmatik. Pada erupsi magmatik, dari sisi seismik selalu akan dijumpai peningkatan kegempaan khususnya gempa vulkanik dalam (gempa VTA) dan dangkal (VTB). Dari sisi deformasi juga bakal terdeteksi penggelembungan (inflasi) tubuh gunung berapi. Dan dari sisi geokimia, akan terjadi peningkatan kadar gas-gas vulkanik disertai peningkatan kuantitas emisi gas vulkanik dari kawah yang kasatmata.

Gambar 3. Dinamika kegempaan Gunung Merapi semenjak 1 Januari 2013 hingga 20 April 2014, yang meliputi gempa LHF, gempa vulkanik (VUL), gempa multifase (MP) dan gempa guguran (GGR). Garis merah putus-putus menandakan garis waktu erupsi freatik, masing-masing pada 22 Juli 2013 (a), 18 November 2013 (b), 12 Desember 2013 (c), 10 Maret 2014 (d), 27 Maret 2014 (e) dan 20 April 2014 (f). Terkecuali erupsi freatik 22 Juli 2013, tak ada lonjakan kegempaan yang jelas dalam setiap erupsi freatik khususnya pada gempa LHF dan vulkanik. Sumber: BPPTKG, 2014.

Gambar 3. Dinamika kegempaan Gunung Merapi semenjak 1 Januari 2013 hingga 20 April 2014, yang meliputi gempa LHF, gempa vulkanik (VUL), gempa multifase (MP) dan gempa guguran (GGR). Garis merah putus-putus menandakan garis waktu erupsi freatik, masing-masing pada 22 Juli 2013 (a), 18 November 2013 (b), 12 Desember 2013 (c), 10 Maret 2014 (d), 27 Maret 2014 (e) dan 20 April 2014 (f). Terkecuali erupsi freatik 22 Juli 2013, tak ada lonjakan kegempaan yang jelas dalam setiap erupsi freatik khususnya pada gempa LHF dan vulkanik. Sumber: BPPTKG, 2014.

T : apakah benar-benar tidak ada tanda-tanda awal bagi erupsi freatik Merapi?

J : sebenarnya ada, meskipun samar. Dari sisi energi seismik akumulatif, yakni jumlah energi kegempaan yang terkumpul semenjak periode tertentu, dijumpai adanya lonjakan halus menjelang terjadinya erupsi freatik. Namun harus digarisbawahi bahwa lonjakan energi tersebut tak selalu berarti lonjakan jumlah gempa Merapi. Karena berkemungkinan terjadi situasi dimana lonjakan energi seismik tersebut disebabkan oleh peningkatan magnitudo (kekuatan) gempa Merapi tanpa diiringi peningkatan jumlah gempanya.

T : oke, saya bisa memahami kesulitan-kesulitan dalam menjejak tanda-tanda awal erupsi freatik Merapi. Pertanyaannya, langkah apa yang bisa dilakukan untuk mengantisipasinya ?

J : beberapa sudah sempat disinggung di awal mula diskusi kita, terkait curah hujan dan gempa tektonik jauh.

Gambar 4. Dinamika deformasi tubuh Gunung Merapi semenjak 1 Januari 2013 hingga 20 April 2014 menggunakan instrumen EDM (electronic distance measurement) dari pos Kaliurang (RK2) dan Babadan (RB3). Garis merah putus-putus menandakan garis waktu erupsi freatik, masing-masing pada 22 Juli 2013 (a), 18 November 2013 (b), 12 Desember 2013 (c), 10 Maret 2014 (d), 27 Maret 2014 (e) dan 20 April 2014 (f). Nampak deformasi tubuh gunung berfluktuasi, namun seluruhnya memiliki variasi nilai di bawah 10 mm (nilai ralat pengukuran) sehingga tidak signifikan. Terlihat jelas bahwa dalam setiap erupsi freatik tidak disertai dengan deformasi tubuh Gunung Merapi yang signifikan. Sumber: BPPTKG, 2014.

Gambar 4. Dinamika deformasi tubuh Gunung Merapi semenjak 1 Januari 2013 hingga 20 April 2014 menggunakan instrumen EDM (electronic distance measurement) dari pos Kaliurang (RK2) dan Babadan (RB3). Garis merah putus-putus menandakan garis waktu erupsi freatik, masing-masing pada 22 Juli 2013 (a), 18 November 2013 (b), 12 Desember 2013 (c), 10 Maret 2014 (d), 27 Maret 2014 (e) dan 20 April 2014 (f). Nampak deformasi tubuh gunung berfluktuasi, namun seluruhnya memiliki variasi nilai di bawah 10 mm (nilai ralat pengukuran) sehingga tidak signifikan. Terlihat jelas bahwa dalam setiap erupsi freatik tidak disertai dengan deformasi tubuh Gunung Merapi yang signifikan. Sumber: BPPTKG, 2014.

T : oke, jadi kalau Gunung Merapi diguyur hujan deras, artinya kita harus waspada akan terjadinya erupsi freatik?

J : ya, harus waspada dalam beberapa hari ke depan. Meski belum tentu bakal terjadi erupsi freatik.

T : oke, pun juga jika kawasan pantai selatan Jawa diguncang gempa tektonik kuat (magnitudo > 5 skala Richter) dengan sumber dimana saja di antara lepas pantai Jawa Barat hingga Jawa Timur, kita juga harus waspada akan terjadinya erupsi freatik ?

J : ya, harus waspada dalam beberapa hari ke depan. Meski belum tentu bakal terjadi erupsi freatik.

T : oke, saya bisa memahami. Nah sekarang pertanyaan selanjutnya, apakah erupsi freatik bisa berbahaya bagi manusia ? Bagaimana jika dibandingkan tingkat bahaya erupsi magmatik ?

J : erupsi freatik tetap berbahaya bagi manusia meski tingkat bahayanya tidak setinggi erupsi magmatik. Bongkahan batu dan kerikil produk erupsi freatik bisa melukai kita dan bahkan bisa berakibat fatal jika jatuh mengenai organ-organ penting kita dengan telak. Guyuran pasir dan debu pekat juga bisa mengganggu sistem pernafasan dan juga mata kita, khususnya jika kita sedang berada di lereng dan kaki gunung.

Namun harus digarisbawahi, bahwa erupsi freatik Merapi hanya menyemburkan material dalam jumlah kecil dibanding erupsi magmatik. Sehingga radius bahayanya juga relatif kecil. Ditambah dengan tiadanya material bersuhu tinggi seperti lava maupun awan panas yang merupakan ancaman utama dalam setiap letusan gunung berapi, maka tingkat bahaya erupsi freatik adalah lebih kecil.

T : jadi erupsi freatik Merapi menyemburkan material vulkanik dalam jumlah lebih kecil?

J : ya, lebih kecil dan lebih ‘dingin’ (dalam perspektif gunung berapi).

T : oke, sekarang bagaimana langkah antisipasinya tatkala terjadi sebuah peristiwa erupsi freatik ?

J : kata kuncinya, erupsi freatik menyemburkan material dalam jumlah lebih kecil dan lebih ‘dingin’. Maka kita tak perlu cemas dengan awan panas (wedhus gembel) atau lava pijarnya sehingga bisa lebih fokus menghadapi hujan debunya. Hujan debu erupsi freatik akan berdurasi jauh lebih singkat dibanding hujan debu akibat erupsi magmatik. Dengan kata lain, hujan debu akibat erupsi freatik jauh lebih singkat bila dibandingkan dengan hujan debu Letusan Merapi 2010 ataupun hujan debu Letusan Kelud 2014 kemarin.

Nah karena potensi ancamannya sebatas hujan debu, maka antisipasinya :
1. berdiam di dalam ruangan dalam waktu 1 hingga 2 jam kala hujan debu mulai terjadi.
2. jika terpaksa hendak melakukan aktivitas di luar ruangan, usahakan untuk mengenakan masker.
3. jika terpaksa harus mengendarai kendaraan (sepeda/sepeda motor), usahakan untuk mengenakan masker dan menjalankan kendaraan perlahan-lahan (kecepatan maksimum 20 km/jam) agar debu yang sudah jatuh ke tanah tak lagi beterbangan.

Gambar 5. Dinamika kemiringan lereng Gunung Merapi semenjak 3 Januari 2013 hingga 17 April 2014 menggunakan instrumen tiltmeter dari pos Plawangan, dalam komponen barat-timur (atas) dan utara-selatan (bawah). Garis merah putus-putus menandakan garis waktu erupsi freatik, masing-masing pada 22 Juli 2013 (a), 18 November 2013 (b), 12 Desember 2013 (c), 10 Maret 2014 (d), 27 Maret 2014 (e) dan 20 April 2014 (f). Terlihat jelas bahwa dalam setiap erupsi freatik tidak terjadi perubahan kemiringan lereng Gunung Merapi yang signifikan. Sumber: BPPTKG, 2014.

Gambar 5. Dinamika kemiringan lereng Gunung Merapi semenjak 3 Januari 2013 hingga 17 April 2014 menggunakan instrumen tiltmeter dari pos Plawangan, dalam komponen barat-timur (atas) dan utara-selatan (bawah). Garis merah putus-putus menandakan garis waktu erupsi freatik, masing-masing pada 22 Juli 2013 (a), 18 November 2013 (b), 12 Desember 2013 (c), 10 Maret 2014 (d), 27 Maret 2014 (e) dan 20 April 2014 (f). Terlihat jelas bahwa dalam setiap erupsi freatik tidak terjadi perubahan kemiringan lereng Gunung Merapi yang signifikan. Sumber: BPPTKG, 2014.

T: baik, saya paham. Nah sekarang bagaimana kaitan erupsi-erupsi freatik Merapi selama ini dengan status aktivitas Gunung Merapi ?

J : status aktivitas Gunung Merapi tetap berada dalam tingkatan terendah, yakni Aktif Normal (Level I).

T : mengapa ?

J : sebab erupsi freatik Merapi selama ini tidak disertai dibarengi pergerakan magma segar, baik berdasarkan indikasi seismik dan deformasi maupun berdasarkan tampilan kasat mata (dalam rupa awan panas maupun lava pijar). Perubahan status gunung berapi di Indonesia selalu ditegakkan berdasarkan ada tidaknya pergerakan magma segar dalam aktivitasnya, baik kasat mata maupun tidak.

T : tapi erupsi freatik Merapi kan menakutkan ! Penduduk sampai harus dievakuasi ! Bagaimana ?

J : ya, erupsi freatik memang menakutkan. Apalagi kita masih memiliki kenangan bersama yang cukup kuat akan kengerian dan kedahsyatan Letusan Merapi 2010 yang begitu menakutkan. Namun harus dipahami juga, dengan nihilnya pergerakan magma segar maka belum cukup alasan untuk menaikkan status Gunung Merapi. Sebab dasar bagi peningkatan status adalah pada pergerakan magma segar. Bisa saja dasar yang telah teruji ini diubah dengan memasukkan parameter baru, misalnya semburan debu. Namun parameter baru itu juag harus jelas juga kuantitas dan batasannya. Jika seluruh kegiatan semburan debu lantas dijadikan alasan untuk meningkatkan status, maka begitu semburan debunya berakhir statusnya pun harus segera diturunkan kembali. Padahal di sisi lain, setiap upaya peningkatan status gunung berapi selalu memiliki implikasinya sendiri.

Contoh pembanding yang cukup bagus dalam hal ini adalah Gunung Semeru (Jawa Timur). Gunung ini telah meletus secara teru-menerus semenjak 1967 meski dalam rupa semburan debu kecil setiap 15 hingga 30 menit sekali dengan tinggi semburan debu 200 hingga 500 meter dari kawah. Hal ini terjadi karena magma segar naik secara berkesinambungan dan saluran magma Gunung Semeru sudah terbuka sehingga tak terjadi akumulasi magma dan peningkatan tekanan. Oleh karena itu status Gunung Semeru selalu berada di tingkat Waspada (Level II). Meski berulang-ulang terjadi fluktuasi, sebut saja seperti kejadian November 2007 saat Semeru mendadak menyemburkan debunya setinggi 2.000 meter disertai dentuman keras dan berkurangnya periodisitas letusan menjadi setiap 2 sampai 3 jam sekali, namun karena tak disertai peningkatan jumlah keluaran magma segar (ditandai dengan tiadanya pancuran lava maupun kubah lava), maka status Gunung Semeru tetap dipertahankan di Waspada (Level II).

T : apakah erupsi freatik Merapi yang telah terjadi berulang kali tidak cukup untuk menaikkan statusnya, paling tidak ke status Waspada sebagai sinyal bahwa Gunung Merapi sewaktu-waktu bisa bererupsi freatik kembali?

J : ya, saya juga paham dengan kegelisahan tersebut. Namun sekali lagi, dasar yang telah teruji guna meningkatkan status Gunung Merapi adalah pada pergerakan magma segar, baik kasat mata maupun tidak.

Di sisi lain juga harus dipahami bahwa setiap upaya peningkatan status Gunung Merapi bakal berimplikasi kepada lingkungan sekitarnya, baik dalam ranah keilmuan kegunungapian, dalam aspek ekonomi, sosial maupun budaya, baik dalam lingkup lokal maupun regional. Sebagai contoh, saat peningkatan status maka daerah-daerah terlarang pun dibentuk. Tatkala Gunung Merapi menyandang status Waspada (Level II), maka kawasan rawan bencana III (KRB III) menjadi daerah bahaya yang tak boleh dimasuki, sehingga aktivitas penduduk sekitarnya bakal terhambat hingga ke titik tertentu. Inilah yang membuatnya menjadi tidak sederhana.

Juga harus digarisbawahi bahwa peningkatan status yang dilakukan menyebal dari dasar yang sudah teruji, atas alasan apapun, akan beresiko pada false alarm (peringatan palsu) yang bisa meningkatkan sinisme publik dan justru menjauhkannya dari tujuan luhur guna meningkatkan kepedulian dan kewaspadaan publik. Misalnya, jika hari Gunung Merapi ber-erupsi freatik dan kemudian BPPTKG meningkatkan statusnya menjadi Waspada (Level II). Maka dalam seminggu kemudian status ini musti dievaluasi lagi sesuai prosedur yang berlaku. Nah jika saat itu ternyata hasil evaluasi mingguan menunjukkan Gunung Merapi datar-datar saja, status Waspada (Level II) kembali harus diturunkan ke Aktif Normal (Level I) karena juga tak ada alasan untuk tetap mempertahankannya. Jika sebulan kemudian terjadi erupsi freatik lagi, cerita yang sama akan berulang. Status dinaikkan lagi namun seminggu kemudian kembali diturunkan.

Jika terjadi berulang-ulang, false alarm-lah yang ditangkap publik dan bisa berujung pada sinisme. Akan muncul gugatan kenapa bisa Gunung Merapi dinaik-turunkan statusnya seperti itu sementara dalam realitasnya nyaris tak terjadi apa-apa, katakanlah jika dibandingkan dengan letusan Merapi yang kita kenal sebelum tahun 2010 atau bahkan jika dibandingkan dengan Letusan Merapi 2010.

Upaya menaik-turunkan status sebuah gunung berapi selalu menjadi persoalan yang kompleks dan tak pernah mudah. Pembacaan harus cermat. Sebab jika sikap pengawas Gunung Merapi berlebihan, maka peningkatan status yang dilakukannya bisa dibaca sebagai false alarm. Sebaliknya jika pengawas teledor, maka peningkatan status akan terlalu terlambat dibandingkan kecepatan aktivitas Merapi yang sesungguhnya sehingga korban jiwa bisa jatuh.

T : jika status Gunung Merapi ditingkatkan jadi Waspada, bukankah penduduk akan bisa lebih waspada dan bersiap-siap mengevakuasi diri kapanpun terjadi erupsi freatik ?

J : di Gunung Merapi, evakuasi akibat erupsi freatik harus dipisahkan dari evakuasi akibat erupsi magmatik. Jika terjadi erupsi freatik, tak ada larangan bagi penduduk di lereng dan kaki Gunung Merapi untuk mengevakuasi diri ke barak-barak pengungsian yang telah disepakati bersama, meskipun status Merapi tetap dinyatakan Aktif Normal (Level I). Jika hal ini terjadi, adalah kewajiban pemerintah daerah setempat untuk menangani para pengungsi di barak-barak dengan sebaik-baiknya. Dalam beberapa kali peristiwa erupsi freatik, evakuasi memang sempat terjadi meski hanya dalam waktu singkat dan dalam beberapa jam kemudian penduduk telah kembali ke tempat tinggalnya masing-masing.

Sebaliknya dalam mengantisipasi erupsi magmatik, pasca kejadian 2010 dusun-dusun dan desa-desa di lereng dan kaki Gunung Merapi telah memiliki prosedur/SOP (standard operating procedure) tersendiri dalam mengantisipasinya. Evakuasi akan dilakukan tatkala status Merapi mencapai tingkat Siaga (Level III). Pada umumnya, saat Gunung Merapi berstatus Siaga (Level III) maka aktivitasnya akan terus berlanjut hingga mencapai titik status tertinggi, yakni Awas (Level IV). Evakuasi mengantisipasi erupsi magmatik akan berlangsung lama, mulai dari beberapa hari hingga beberapa minggu. Harus dilihat juga bahwa status Siaga (Level III) hanya setingkat di atas status Waspada (Level II). Sehingga dalam status Waspada (Level II), langkah-langkah persiapan sudah harus dilakukan. Maka mari dibayangkan, bagaimana jika semenjak 22 Juli 2013 status Gunung Merapi ditingkatkan jadi Waspada (Level II) ? Selama berbulan-bulan kita dicekam situasi harus bersiap-siap mengantisipasi kemungkinan naiknya status menjadi Siaga (Level III), padahal Gunung Merapi sendiri hingga hari ini (April 2014) relatif tenang dan hanya berfluktuasi pada saat erupsi freatik terjadi.

Pengalaman di Gunung Sinabung mungkin dapat menjadi contoh. Mulai 24 November 2013 gunung berapi ini ditingkatkan statusnya menjadi Awas (Level IV) dari semula Siaga (Level III) karena perkembangan aktivitasnya yang mengkhawatirkan. Konsekuensinya lebih dari 17.000 jiwa yang tinggal disekitarnya harus mengungsi. Namun pasca penetapan status Awas, Gunung Sinabung justru terlihat lebih kalem. Sepanjang Desember 2013 ia hanya sibuk menumpuk lava di puncaknya membentuk kubah lava tanpa diiringi tanda-tanda letusan yang kasat mata seperti semburan debu, leleran lava maupun hempasan awan panas. Sepanjang Desember 2013 itu sinisme merebak dan tingkat kepercayaan pengungsi pada institusi pemantau gunung berapi merosot dramatis hingga ke titik terendah. Bagi mereka tak masuk akal harus tetap tinggal di barak-barak pengungsian sementara sang gunung sendiri justru (terlihat) kalem. Kepercayaan baru pulih saat sepanjang Januari 2014 Gunung Sinabung melepaskan awan panasnya secara susul-menyusul, apalagi setelah terjadi tragedi 1 Februari 2014 yang menewaskan 17 orang.

Harus dilihat bahwa naik-turunnya kepercayaan pengungsi Sinabung justru terjadi tatkala gunung berapi itu dalam status tertinggi. Status Awas (Level IV) dideskripsikan sebagai terjadinya letusan yang akan mengancam perikehidupan manusia. Dapat dibayangkan apa yang akan terjadi jika situasi tersebut terjadi pada gunung berapi yang statusnya di bawah Awas (Level IV). Jika misalnya Gunung Merapi ditingkatkan statusnya menjadi Waspada (Level II) semenjak 22 Juli 2013, apa yang akan terjadi pada kondisi psikologis penduduk sekitar hingga sembilan bulan kemudian (sampai April 2014) saat menyaksikan Merapi justru menghabiskan hampir seluruh waktu tersebut dengan tampilan yang tenang dan hanya 6 kali mengalami erupsi freatik dengan durasi masing-masing erupsi pun sangat singkat, tak sampai 30 menit ?

Gambar 6. Dinamika curah hujan di Gunung Merapi semenjak 1 Januari 2013 hingga 19 April 2014 yang diukur dari empat pos pengamat Gunung Merapi. Garis merah putus-putus menandakan garis waktu erupsi freatik, masing-masing pada 22 Juli 2013 (a), 18 November 2013 (b), 12 Desember 2013 (c), 10 Maret 2014 (d), 27 Maret 2014 (e) dan 20 April 2014 (f). Terlihat jelas dalam beberapa erupsi freatik terlebih dahulu terjadi hujan lebat, misalnya yang tercatat di Jrakah dan Ngepos (jelang 22 Juli 2013), juga yang tercatat di Babadan dan Kaliurang (jelang 18 November 2013). Sumber: BPPTKG, 2014.

Gambar 6. Dinamika curah hujan di Gunung Merapi semenjak 1 Januari 2013 hingga 19 April 2014 yang diukur dari empat pos pengamat Gunung Merapi. Garis merah putus-putus menandakan garis waktu erupsi freatik, masing-masing pada 22 Juli 2013 (a), 18 November 2013 (b), 12 Desember 2013 (c), 10 Maret 2014 (d), 27 Maret 2014 (e) dan 20 April 2014 (f). Terlihat jelas dalam beberapa erupsi freatik terlebih dahulu terjadi hujan lebat, misalnya yang tercatat di Jrakah dan Ngepos (jelang 22 Juli 2013), juga yang tercatat di Babadan dan Kaliurang (jelang 18 November 2013). Sumber: BPPTKG, 2014.

T : oh begitu ?

J : ya. Saya yakin BPPTKG sebagai institusi pemantau Gunung Merapi sebagai kepanjangan tangan PVMBG (Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi) di bawah Badan Geologi Kementerian ESDM siap menaikkan status Gunung Merapi kapan saja bila diperlukan, asal dilandasi dasar yang jelas. Dasar tersebut harus benar-benar memperlihatkan kecenderungan peningkatan aktivitas dan bukan sekedar fluktuasi sesaat (dalam waktu singkat). Saya juga yakin tak ada yang ditutup-tutupi dari aktivitas pemantauan Gunung Merapi selama ini oleh BPPTKG. Keputusan untuk tetap mempertahankan status aktivitas Gunung Merapi di tingkat terendah, yakni Aktif Normal (Level I), saya yakin didasari alasan kuat demi kemaslahatan kita semua tanpa terkecuali.

T : namun bukankah menjadi hak bagi penduduk sekitar Gunung Merapi untuk mendapatkan informasi yang sesungguhnya tentang perilaku gunung berapi tersebut ?

J : ya, sepakat. Adalah hak setiap insan yang tinggal di sekitar dan yang menaruh kepedulian besar akan Gunung Merapi untuk mendapatkan informasi tersebut. Dan status aktivitas Gunung Merapi hanyalah salah satu instrumen pelaksanaan keterbukaan informasi itu. Di sisi lain saya kira BPPTKG juga sudah cukup banyak membuka diri. Jalinan informasi lewat radio komunikasi dengan komunitas sudah terbangun. Bahkan penyebaran informasinya juga sudah merambah ke media sosial, sehingga apapun yang sedang dilakukan BPPTKG dan apapun yang sedang terjadi di Gunung Merapi dapat kita pantau.

T : oke, baik. Pertanyaan terakhir, andaikata pada saat ini mendadak Gunung Merapi terlihat menyemburkan asap abu-abu pekat ke langit dan disusul hujan pasir/debu vulkanik di kaki gunung dan juga hujan debu di lokasi yang lebih jauh dari gunung, apakah hal itu adalah erupsi freatik ?

J : ya, berdasarkan pengetahuan akan Gunung Merapi hingga saat ini.

T : bukan erupsi magmatik ?

J : berdasarkan pengetahuan tentang Gunung Merapi hingga saat ini (April 2014), jawabannya bukan. Erupsi magmatik selalu didului dengan riuhnya kegempaan Merapi khususnya gempa-gempa vulkaniknya. Erupsi magmatik juga akan didahului dengan menggelembungnya (inflasi) tubuh Merapi. Jika keduanya terjadi, maka status aktivitas Gunung Merapi sudah bakal ditingkatkan bahkan sebelum magma segarnya mencapai permukaan.

Rujukan :

1. Drs. Subandriyo, M.Si. 2014. Aktivitas Gunung Merapi Pasca Erupsi 2010, Antisipasi Terhadap Erupsi Freatik Vulkanian. Makalah dalam Diskusi Kelompok Studi Kawasan Merapi (KSKM), Sleman, 4 Januari 2014.

2. Dr. Agung Harijoko. 2014. Erupsi Merapi di Masa yang Akan Datang. Makalah dalam Diskusi Kelompok Studi Kawasan Merapi (KSKM), Sleman, 4 Januari 2014.

Advertisements
Categories: Aktivitas Merapi
  1. marufins
    April 25, 2014 at 3:44 pm

    Reblogged this on Muh Ma'rufin Sudibyo.

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: