Archive

Posts Tagged ‘freatik’

Hidup Ramah Bersama Merapi yang Berubah (Bagian Kedua)

February 5, 2014 2 comments

Disarikan dari makalah Drs. Subandriyo, M.Si
Kepala Balai Penelitian dan Pengembangan Teknik Kebencanaan Geologi (BPPTKG),
Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumberdaya Mineral RI

Seperti telah dipaparkan dalam bagian pertama dari tulisan ini, tidak dijumpainya endapan awan panas (yang seharusnya masih bersuhu tinggi) memberikan kepastian bahwa apa yang terjadi di Gunung Merapi pada 18 November 2013 merupakan peristiwa erupsi freatik. Berbeda dengan erupsi freatik pada umumnya yang terjadi beruntun dalam selang waktu tertentu sebagai babak pembuka dari erupsi magmatik, seperti yang bisa disaksikan di Gunung Sinabung (Sumatra Utara) semenjak September 2013, erupsi freatik di Gunung Merapi lebih merupakan kejadian tunggal dengan durasi sangat singkat. Begitu erupsi freatik itu usai tidak ada lagi erupsi susulan yang menyertainya. Kasus serupa juga dijumpai di Gunung Tangkuban Parahu (Jawa Barat) dalam aktivitasnya di 2013.

Namun terlepas dari itu, perilaku Gunung Merapi pasca Letusan Merapi 2010 yang kini gemar ber-erupsi freatik memunculkan tanda tanya, apakah kejadian tersebut bakal berpengaruh terhadap status aktivitas Gunung Merapi saat ini? Bagi beberapa kalangan, masalah apakah Gunung Merapi mengalami erupsi freatik ataukah magmatik seyogyanya tak perlu diperdebatkan, karena faktanya gunung berapi tersebut telah ber-erupsi atau dalam bahasa sederhana telah mengalami letusan. Letusan tersebut seyogyanya menjadi dasar bagi lembaga terkait, khususnya BPPTKG, untuk menaikkan status aktivitas Gunung Merapi dari yang kini masih Aktif Normal (Level 1) menjadi setidaknya Waspada (Level 2). Penaikan status ini sebagai bagian untuk menjaga kesiapsiagaan masyarakat khususnya yang bermukim di sekujur tubuh Gunung Merapi.

Status

Gambar 1. Perubahan wajah puncak Merapi dilihat dari titik yang sama yakni arah tenggara-timur dalam waktu yang berbeda, antara sebelum letusan 2010 (kiri) dan setelah letusan 2010 (kanan). Letusan 2010 membuat sebagian puncak terpenggal serta terbentuk kawah besar seukuran 423 x 374 meter dengan kedalaman 140 meter yang robek di sisi tenggara dengan lebar robekan 303 meter. Didasarnya teronggok kubah lava 2010, pusat erupsi freatik selama ini. Sumber: BPPTKG, 2014.

Gambar 1. Perubahan wajah puncak Merapi dilihat dari titik yang sama yakni arah tenggara-timur dalam waktu yang berbeda, antara sebelum letusan 2010 (kiri) dan setelah letusan 2010 (kanan). Letusan 2010 membuat sebagian puncak terpenggal serta terbentuk kawah besar seukuran 423 x 374 meter dengan kedalaman 140 meter yang robek di sisi tenggara dengan lebar robekan 303 meter. Didasarnya teronggok kubah lava 2010, pusat erupsi freatik selama ini. Sumber: BPPTKG, 2014.

Status aktivitas Gunung Merapi, atau singkatnya status Merapi, selama ini ditegakkan berdasar pada ada tidaknya magma segar yang terlibat dalam erupsi, baik tatkala masih di dalam tubuh gunung dan sedang menanjak naik (sehingga berimplikasi pada meningkatnya jumlah gempa vulkanik dalam dan dangkal secara dramatis) maupun setelah keluar dari kepundan (sebagai kubah lava maupun awan panas dan leleran lava). Magma segar menjadi ancaman utama yang berdampak primer, mengingat awan panas dan leleran lava yang diproduksinya mampu menimbulkan korban jiwa ataupun luka-luka pada manusia di samping mampu merusak harta benda hingga menimbulkan kerugian material.

Terdapat empat status aktivitas yang bisa melekat pada sebuah gunung berapi di Indonesia dalam kurun waktu tertentu. Status terendah adalah Aktif Normal (Level 1), yang secara umum terjadi kala dalam gunung berapi tersebut tidak ada pergerakan magma yang signifikan. Meski tetap mengemisikan gas vulkanik dan juga memproduksi gempa-gempa khas gunung berapi terkecuali gempa vulkanik dalam, namun semuanya masih berada dalam nilai rata-rata secara statistik. Di tingkat berikutnya terdapat status Waspada (Level 2), yang secara umum terjadi kala magma di perut bumi mulai bergerak menanjak naik sehingga menghasilkan lonjakan jumlah gempa vulkanik dalam dan dangkal. Emisi gas vulkanik mulai meningkat namun belum diiringi dengan deformasi tubuh gunung. Dalam status ini masyarakat musti sudah meningkatkan kewaspadaannya dan bersiap-siap menata barang-barang yang dibutuhkan dalam rangka evakuasi kelak. Kawasan terlarang pun mulai terbentuk meski masih beradius kecil. Namun status Waspada bersifat dapat-balik, yakni dapat turun kembali menuju status dibawahnya (Aktif Normal) saat gerakan magma mendadak melemah dan berhenti tanpa adanya letusan.

Jika gerakan magma terus berlangsung maka gunung berapi akan memasuki status lebih tinggi, yakni Siaga (Level 3). Secara umum dalam status ini magma telah bergerak cukup signifikan di dalam perut bumi sehingga mulai memasuki tubuh gunung berapi. Akibatnya lonjakan gempa vulkanik dalam dan dangkal serta emisi gas vulkanik terus terjadi, diiringi dengan mulai terdeformasinya tubuh gunung seiring masuknya magma ke dalamnya sehingga terjadi penggelembungan (inflasi). Dapat pula terjadi magma sudah mencapai dasar kepundan dan menyeruak keluar sebagai erupsi. Magma yang ter-erupsi bisa terkumpul di satu titik sebagai kubah lava maupun tersebar sebagai leleran lava dan awan panas. Meski sudah terjadi erupsi namun intensitasnya rendah sehingga belum mengancam pemukiman manusia di tubuh gunung tersebut. Dalam status ini evakuasi masyarakat di yang bermukim di tubuh gunung sudah mulai dilakukan. Radius kawasan terlarang pun diperluas. Pada umumnya status Siaga bersifat tak dapat-balik, sehingga akan berujung ke status berikutnya yang lebih tinggi. Meskipun dalam beberapa kasus dijumpai gunung-gunung berapi yang telah berstatus Siaga namun ternyata dapat balik ke status yang lebih rendah seperti Waspada atau bahkan Aktif Normal. Dan status berikutnya sekaligus yang tertinggi adalah Awas (Level 4), yang secara umum terjadi saat intensitas erupsi kian meningkat sehingga mulai mengancam pemukiman manusia. Dalam status ini radius kawasan terlarang kian diperluas.

Gambar 2. Gambar sederhana tahap erupsi freatik yang tak disusul magmatik. Keterangan: 1=tubuh gunung berapi, 2=air bawah tanah di sekitar puncak,3=kubah lava,4=uap air yang terbentuk akibat pemanasan air bawah tanah,5: aliran gas-gas vulkanik bersuhu tinggi. A = sebelum erupsi terjadi, gas vulkanik bersuhu tinggi mulai memanaskan air bawah tanah di dasar kubah lava hingga membentuk uap superpanas bertekanan tinggi. B = saat tekanannya sudah tak sanggup ditahan batuan kubah lava , uap air pun menyembur keluar bersama gas-gas vulkanik panas serta debu dan bongkahan bebatuan yang berhasil digerus dari dinding saluran magma. C = begitu gas dan uap air keluar dari saluran magma, erupsi pun berhenti karena tenaga penggeraknya sudah hilang. Sumber: Sudibyo, 2014.

Gambar 2. Gambar sederhana tahap erupsi freatik yang tak disusul magmatik. Keterangan: 1=tubuh gunung berapi, 2=air bawah tanah di sekitar puncak,3=kubah lava,4=uap air yang terbentuk akibat pemanasan air bawah tanah,5: aliran gas-gas vulkanik bersuhu tinggi. A = sebelum erupsi terjadi, gas vulkanik bersuhu tinggi mulai memanaskan air bawah tanah di dasar kubah lava hingga membentuk uap superpanas bertekanan tinggi. B = saat tekanannya sudah tak sanggup ditahan batuan kubah lava , uap air pun menyembur keluar bersama gas-gas vulkanik panas serta debu dan bongkahan bebatuan yang berhasil digerus dari dinding saluran magma. C = begitu gas dan uap air keluar dari saluran magma, erupsi pun berhenti karena tenaga penggeraknya sudah hilang. Sumber: Sudibyo, 2014.

Lembaga yang bertanggung jawab terhadap dinamika status gunung-gunung berapi di Indonesia adalah PVMBG (Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi) yang berkedudukan di bawah Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral. Khusus untuk Gunung Merapi, peran tersebut didelegasikan kepada BPPTKG. Di Gunung Merapi, pada umumnya dinamika status berlangsung secara linier tanpa dapat-balik. Maka begitu status Waspada ditegakkan, dalam beberapa waktu berselang ia akan menanjak menjadi Siaga dan kemudian dipungkasi dengan Awas. Pola semacam ini yang kini dikenal dengan idiom “Merapi tak pernah ingkar janji.” Namun urusan menaik-turunkan status Merapi tak pernah menjadi persoalan sederhana, mengingat status Merapi adalah ekspresi umum komunikasi publik tentang apa yang sedang dialami gunung berapi tersebut bagi publik baik di lingkup lokal maupun regional. Pasca Letusan Merapi 2010, telah terbentuk SOP (standard operating procedure) bagi dusun-dusun yang berada di sekujur tubuh Gunung Merapi dalam menyikapi aktivitasnya. Dalam SOP tersebut, evakuasi mandiri musti dilakukan tatkala status Merapi memasuki tahap Siaga (Level 3).

Dari waktu ke waktu, alasan rasional untuk menaik-turunkan status Merapi berbeda-beda. Misalnya sebelum 2010, status Siaga (Level 3) baru ditegakkan setelah titik api diam (sebagai pertanda mulai keluarnya magma segar) telah teramati dan hal ini juga cukup dipahami publik masa itu. Namun menjelang Letusan Merapi 2010, status yang sama telah ditegakkan meski belum ada tanda-tanda titik api diam. Alasan yang mendasarinya adalah kegempaan Gunung Merapi yang sangat riuh, melebihi kegempaan sebelum Letusan Merapi 2006, disertai dengan lonjakan tajam emisi gas-gas vulkaniknya khususnya gas karbondioksida. Di kemudian hari keputusan ini terbukti tepat, sebab andaikata BPPTKG tetap bertahan untuk menanti munculnya titik api diam maka korban jiwa dalam jumlah besar takkan terelakkan mengingat Letusan Merapi 2010 bertipe eksplosif atau sangat berbeda dengan letusan-letusan sebelumnya semenjak 1930.

Meski terdapat dinamika tersebut, namun alasan utama yang mendasari naik-turunnya status Merapi adalah magma segar. Inilah yang menjadi fokus utama dalam menyikapi kejadian erupsi 18 November 2013 lalu sehingga statusnya perlu ditegakkan dengan pasti apakah berupa erupsi magmatik ataukah lainnya (yakni erupsi freatik). Bagi para peneliti, memastikan jenis erupsi ini bukanlah untuk mencari kepuasan diri dalam ranah intelektual, melainkan karena antara erupsi magmatik dan freatik memiliki karakteristiknya masing-masing sehingga penyikapannya pun berbeda. Jika yang keluar pada saat itu adalah magma segar, atau terjadi erupsi magmatik, maka jelas status Merapi memang harus ditingkatkan dan langkah-langkah selanjutnya perlu diambil. Namun jika bukan, mengapa harus menaikkan status Merapi ?

Analogi yang bisa diambil dalam menyikapi erupsi freatik ini adalah kejadian hujan debu vulkanik seperti terjadi dalam Letusan Merapi 2010. Letusan itu menghamburkan debu vulkanik ke arah barat dalam radius cukup jauh sehingga sempat membuat Kabupaten Purworejo, Kebumen dan Cilacap berbedak abu pekat seiring hujan debu yang cukup deras. Tak ada yang membantah bahwa tebaran debu vulkanik ini mampu menurunkan kualitas kesehatan manusia pada umumnya khususnya akibat gangguan sistem pernafasan. Namun sejauh ini paparan debu vulkanik bagi manusia pada umumnya tidak berdampak mematikan. Atas dasar tersebut maka meski masyarakat Kabupaten Purworejo, Kebumen dan Cilacap cukup terdampak oleh Letusan Merapi 2010 lalu, tak ada alasan rasional untuk meningkatkan status ketiga kabupaten tersebut menjadi kawasan terlarang atau pun sejenisnya. Sehingga penduduknya pun tak perlu mengungsi dan cukup melaksanakan langkah-langkah antisipasi yang diperlukan. Hal tersebut pun berlaku bagi erupsi freatik Merapi, ditambah dengan tiadanya erupsi susulan yang menyertainya apalagi yang berjenis erupsi magmatik. Sehingga tak ada alasan rasional untuk menaikkan status Merapi.

Hidup Ramah

Gambar 3. Gambar sederhana tahap erupsi freatik yang lantas diikuti dengan erupsi magmatik. Keterangan: 1=tubuh gunung berapi, 2=air bawah tanah di sekitar puncak,3=kubah lava,4=uap air yang terbentuk akibat pemanasan air bawah tanah,5: aliran magma segar yang sedang naik menuju kawah. A = Sebelum erupsi terjadi, magma segar sudah memanaskan air bawah tanah di dasar kubah lava hingga membentuk uap superpanas bertekanan tinggi meski belum benar-benar bersentuhan dengannya. B = Saat tekanannya sudah tak sanggup ditahan lagi oleh batuan kubah lava, uap air pun menyembur keluar bersama gas-gas vulkanik panas serta debu dan bongkahan bebatuan yang berhasil digerus dari dinding saluran magma sebagai erupsi freatik. Sementara magma terus menanjak. C = Begitu erupsi freatik usai, maka erupsi magmatik pun dimulai kala magma telah sampai di kawah. Kubah lava yang menutupi kawah pun didobrak hancur, yang memungkinkan magma segar keluar sebagai lava pijar dan awan panas. Sumber: Sudibyo, 2014.

Gambar 3. Gambar sederhana tahap erupsi freatik yang lantas diikuti dengan erupsi magmatik. Keterangan: 1=tubuh gunung berapi, 2=air bawah tanah di sekitar puncak,3=kubah lava,4=uap air yang terbentuk akibat pemanasan air bawah tanah,5: aliran magma segar yang sedang naik menuju kawah. A = Sebelum erupsi terjadi, magma segar sudah memanaskan air bawah tanah di dasar kubah lava hingga membentuk uap superpanas bertekanan tinggi meski belum benar-benar bersentuhan dengannya. B = Saat tekanannya sudah tak sanggup ditahan lagi oleh batuan kubah lava, uap air pun menyembur keluar bersama gas-gas vulkanik panas serta debu dan bongkahan bebatuan yang berhasil digerus dari dinding saluran magma sebagai erupsi freatik. Sementara magma terus menanjak. C = Begitu erupsi freatik usai, maka erupsi magmatik pun dimulai kala magma telah sampai di kawah. Kubah lava yang menutupi kawah pun didobrak hancur, yang memungkinkan magma segar keluar sebagai lava pijar dan awan panas. Sumber: Sudibyo, 2014.

Meski tidak berimplikasi pada status Merapi, kejadian erupsi freatik 22 Juli 2013 dan 18 November 2013 sempat menakutkan masyarakat yang bermukim di tubuh gunung. Khususnya bagi dusun-dusun yang berdekatan dengan puncak, dimana hujan debu pekat disertai suara gemuruh sudah cukup mengguncang masyarakat yang masih dicekam situasi psikologis seiring kejadian Letusan Merapi 2010 yang demikian berbeda. Evakuasi mandiri ke titik-titik pengungsian pun sempat berlangsung. Meski mereka lalu kembali lagi ke kediaman masing-masing dalam beberapa jam kemudian setelah situasi mereda.

Erupsi freatik menjadi hal yang baru bagi Gunung Merapi sehingga ia tak pernah tercantum ke dalam sifat-sifat letusan Merapi yang ada selama ini dan digunakan sebagai basis penaksiran ancaman Gunung Merapi. Dalam catatan Thouret dkk (2000) terdapat tujuh sifat letusan Merapi mulai dari yang teringan berupa guguran batuan harian dari kubah lava terbaru yang bisa menjangkau hingga 2 km dari kubah atau hingga elevasi 1.800 meter dpl hingga yang terparah berupa letusan lateral (mendatar) atau letusan terarah dari salah satu sektor lereng Gunung Merapi yang mampu menimbuni area seluas lebih dari 200 kilometer persegi dengan radius mendatar hingga 20 km dari puncak yang diduga pernah terjadi sedikitnya sekali dalam kurun 7.000 tahun terakhir. Seluruhnya melibatkan pengeluaran magma segar baik dari yang sekedar terakumulasi di puncak sebagai kubah lava hingga yang terlontar lateral sebagai awan panas letusan berskala besar. Tabulasi Thouret dkk itu memang tidak menihilkan ancaman letusan Gunung Merapi yang tidak melibatkan pengeluaran magma segar, misalnya ancaman gas-gas vulkanik beracun dengan mengambil analogi letusan kawah Sinila-Sigludug-Timbang (1979) di Dataran Tinggi Dieng (Jawa Tengah). Namun peta kawasan rawan bencana untuk letusan semacam ini tak tergambar dengan pasti seiring ketidakjelasan parameter penyebaran gas beracun dan sepanjang catatan sejarah Gunung Merapi belum pernah menyemburkan gas beracunnya hingga taraf mematikan.

Gambar 4. Peta sebaran debu tiga peristiwa erupsi freatik Merapi yang berbeda, masing-masing erupsi 22 Juli 2013 (atas), erupsi 18 November 2013 (tengah) dan erupsi 12 Desember 2013 (bawah). Karena hembusan angin pada tiap kejadian erupsi freatik itu berbeda-beda, maka arah dan distribusi debunya pun berbeda-beda. Perhatikan bahwa ketiga peta tidak memiliki skala yang sama. Sumber: BPPTKG, 2013.

Gambar 4. Peta sebaran debu tiga peristiwa erupsi freatik Merapi yang berbeda, masing-masing erupsi 22 Juli 2013 (atas), erupsi 18 November 2013 (tengah) dan erupsi 12 Desember 2013 (bawah). Karena hembusan angin pada tiap kejadian erupsi freatik itu berbeda-beda, maka arah dan distribusi debunya pun berbeda-beda. Perhatikan bahwa ketiga peta tidak memiliki skala yang sama. Sumber: BPPTKG, 2013.

Dengan absennya magma segar dalam setiap kejadian erupsi freatik di Gunung Merapi selama ini, maka ancaman bahaya erupsi freatik memiliki analogi dengan ancaman bahaya gas beracun dari Gunung Merapi, yakni sama-sama tak tergambar peta kawasan rawan bencananya seiring tidak jelasnya persebaran debu vulkanik yang diproduksi dalam tiap erupsi freatik. Jika melihat kasus erupsi freatik 22 Juli 2013, 18 November 2013 dan terakhir 12 Desember 2013, nyatalah bahwa sebaran debu produk erupsi freatik berbeda-beda untuk setiap kejadian karena sangat dipengaruhi oleh hembusan angin yang bertiup pada saat itu. Dan dengan absennya magma segar maka bahaya erupsi freatik bagi manusia berada setingkat di bawah bahaya erupsi magmatik. Sehingga tinggal bagaimana kita mengantisipasinya sesuai dengan langkah-langkah yang selama ini dilakukan dalam menghadapi paparan debu vulkanik.

Debu vulkanik bisa mengganggu kinerja hidung dan tenggorokan kita sehingga menimbulkan ISPA (infeksi saluran pernafasan atas) dalam rupa iritasi, hidung berlendir dan batuk. Debu vulkanik juga bisa mengganggu mata kita khususnya bagi para pengguna lensa kontak. Debu vulkanik juga mengganggu jarak pandang manusia, sebab meski sudah jatuh di tanah ia masih bisa terhambur lagi ke udara akibat tiupan angin baik dari sebab alamiah maupun yang ditimbulkan dari aktivitas manusia, misalnya kala mobil melintas di jalan yang dipenuhi debu vulkanik. Karena itu sangat disarankan untuk berdiam di dalam ruangan tatkala hujan debu terjadi setidaknya selama 1 jam semenjak hujan debu mulai terjadi. Jika terpaksa berada di luar ruangan, kenakanlah masker yang menutupi hidung dan mulut. Usahakan aktivitas di luar ruangan tersebut berlangsung sesingkat dan seefektif mungkin. Tidak disarankan mengenakan kacamata hitam karena jarak pandang yang terbatas. Jika debu vulkanik mulai membuat mata kita pedih, jangan dikucek namun bersihkan mata dan wajah kita dengan air bersih. Terbatasnya jarak pandang juga mengharuskan kita mengendarai kendaraan bermotor dengan hati-hati, sebab potensi kecelakaan lalu lintas meningkat. Jalankan kendaraan kita dengan kecepatan pelan, yang selain sebagai bagian dari langkah kehati-hatian berkendara juga untuk meminimalisir hamburan debu vulkanik di jalan yang kita lintasi.

Hujan debu pekat disertai suara gemuruh memang menakutkan khususnya bagi kita yang tinggal di seputar lereng Gunung Merapi dan berdekatan dengan puncak. Maka tak ada larangan untuk mengevakuasi diri dan keluarga menuju ke titik-titik pengungsian yang telah disepakati bersama. Saat barak-barak pengungsian telah dihuni, maka menjadi kewajiban bagi pemerintah daerah setempat melalui BPBD (Badan Penanggulangan Bencana Daerah) masing-masing untuk melayani para pengungsi sebaik mungkin sesuai prosedur tetap yang telah digariskan. Selama hujan debu berlangsung usahakan untuk tetap tenang, tidak panik, tetap berfikir jernih dan tetap menyaring setiap informasi yang masuk. Jadilah pribadi yang bertanggung jawab dan jangan terpancing untuk ikut-ikutan menyebarkan informasi yang tak jelas kesahihannya, meskipun perangkat komunikasi yang kita miliki memungkinkan untuk itu. Untuk itu upayakan guna selalu mengikuti perkembangan informasi terkini dari BPPTKG misalnya melalui media sosial semacam Twitter ataupun Facebook. Akan lebih bagus lagi jika kita turut mewartakan informasi yang sahih tersebut, yang memberitakan apa yang sesungguhnya sedang terjadi pada Gunung Merapi, bukan justru malah membesar-besarkannya situasinya.

Gambar 5. Selalu sedia masker untuk mengantisipasi jika Gunung Merapi mendadak kembali mengalami erupsi freatik. Masker berguna agar paparan debu ke hidung kita bisa seminimal mungkin dan tak menimbulkan dampak bagi kualitas kesehatan kita, sebab produk utama erupsi freatik Merapi selama ini lebih berupa debu vulkanik. Gambar dicuplik dari Boston.com, 8 November 2010 sebagai ilustrasi.

Gambar 5. Selalu sedia masker untuk mengantisipasi jika Gunung Merapi mendadak kembali mengalami erupsi freatik. Masker berguna agar paparan debu ke hidung kita bisa seminimal mungkin dan tak menimbulkan dampak bagi kualitas kesehatan kita, sebab produk utama erupsi freatik Merapi selama ini lebih berupa debu vulkanik. Gambar dicuplik dari Boston.com, 8 November 2010 sebagai ilustrasi.

Karena potensi bahaya terbesar erupsi freatik ada di sekitar puncak Gunung Merapi saja, tepatnya di kawasan kerucut Gunung Anyar, maka pendakian Merapi sebaiknya hanya dibatasi hingga kawasan Pasarbubar (kaki Gunung Anyar) saja. Paparan debu vulkanik produk erupsi freatik memang dapat menurunkan kualitas kesehatan manusia siapapun, namun dampak lebih besar akan dirasakan oleh anak-anak dan kalangan lanjut usia. Untuk anak-anak, saat hujan debu akibat erupsi freatik berlangsung perlu ada toleransi atas keterlambatan mereka masuk sekolah khususnya tatkala hujan debu berlangsung di pagi hari jelang jam pelajaran dimulai. Toleransi yang sama juga bisa diajukan kala mereka absen atas alasan yang sama.

Gunung Merapi memang telah berubah pasca Letusan Merapi 2010. Kini erupsi freatik telah menjadi bagian dari wajah Merapi keseharian dan sangat sulit untuk diprakirakan sebelumnya. Ini menjadi hal yang tak pernah terbayangkan sebelum 2010. Dengan Gunung Merapi telah berubah, maka kita yang berdiam di sekelilingnya dan di sekujur tubuhnya pun harus turut menyesuaikan diri dengannya. Maka marilah kita hidup ramah bersama Gunung Merapi yang telah berubah itu. Kala ia terdiam, maka tetaplah beraktivitas normal menjalankan apa yang sudah direncanakan dalam kehidupan kita sehari-hari. Namun tatkala erupsi freatik terjadi, mari jalankan langkah-langkah antisipasi yang tersebut di atas.

Referensi:
Subandriyo. 2014. Aktivitas Gunung Merapi Pasca Erupsi 2010, Antisipasi Terhadap Erupsi Freatik Vulkanian. Pertemuan Kelompok Studi Kawasan Merapi, Sleman 4 Januari 2014.

Thouret dkk. 2000. Toward a Revised Hazard Assessment at Merapi Volcano, Central Java. Journal of Volcanology and Geothermal Research, 100 (2000), 479-502.

Memahami ‘Batuk’ Merapi 22 Juli 2013

July 24, 2013 4 comments

Suara gemuruh mirip letusan terdengar dari arah Gunung Merapi pada Senin dinihari 22 Juli 2013 pukul 04:15 WIB. Suara menakutkan itu bisa didengar siapapun yang berada di sekujur lereng dan kaki gunung berapi aktif pembatas alamiah propinsi Jawa Tengah dan DIY itu hingga radius 6 sampai 7 km dari puncak. Gemuruh lantas disusul guyuran debu dan pasir yang berkibar ke kawasan kaki dan lereng gunung, terutama sektor selatan, barat dan timur. Bersamaan dengan terbitnya sang mentari, kolom debu bersalut warna kemerah-merahan nampak mengepul dari puncak Merapi dan membumbung tinggi hingga sekitar 1.000 meter di atas puncak seperti teramati dari pos pemantauan Selo, Babadan, Jrakah dan Ngepos. Selama 35 menit kemudian tepatnya hingga pukul 04:48 WIB, badai kegempaan melanda seluruh seismometer pada semua pos pemantauan Gunung Merapi, hingga jarum-jarumnya sibuk membentuk pola berliku-liku yang khas gempa vulkanik. Pada saat yang sama pula badai kegempaan ini sempat dirasakan penduduk di lereng dan kaki gunung.

Lereng dan puncak Gunung Merapi yang tersembunyi di balik hujan debu menyusul peristiwa 22 Juli 2013 berdasarkan rekaman CCTV Plawangan. Sumber : BPPTKG, 2013.

Lereng dan puncak Gunung Merapi yang tersembunyi di balik hujan debu menyusul peristiwa 22 Juli 2013 berdasarkan rekaman CCTV Plawangan. Sumber : BPPTKG, 2013.

Daerah kaki gunung yang menjadi bagian dari Kabupaten Klaten di sisi timur dan Kabupaten Sleman di selatan sontak tersedak-sedak dijejali guyuran pasir dan debu, yang melebar hingga radius 14 km dari puncak. Hujan pasir dan debu ini mengejutkan warga setempat yang sebagian besar sedang menikmati santap sahur di tengah bulan Ramadhan 1434 H. Ditingkahi dengan bergetarnya kaca-kaca jendela yang sontak membuka kembali kenangan pahit letusan besar 2010, maka ribuan orang pun bergegas melaju ke tempat-tempat pengungsian dengan dibantu para relawan. Namun Senin dinihari yang hiruk-pikuk itu tak lantas berkembang jadi horor, setelah hujan debu ternyata segera mereda selepas Matahari menyingsing, sekitar pukul 06:00 WIB. Maka para pengungsi pun berangsur-angsur kembali ke kediamannya masing-masing. Patut disyukuri peristiwa 22 Juli 2013 itu tidak merenggut korban jiwa atau luka-luka maupun kerugian material dalam rupa rusaknya harta benda penduduk. Tetapi guyuran pasir dan debu yang relatif singkat itu masih menerbitkan kekhawatiran akan dampak tertundanya, misalnya rusaknya tanaman pertanian atau rumput cadangan pakan ternak yang vital artinya bagi penduduk kaki Merapi.

Peristiwa ini cukup mengejutkan mengingat sebelumnya tidak ada tanda-tanda Gunung Merapi sedang mengalami peningkatan aktivitas. Memang pasca letusan besar 2010-nya, gunung berapi ini sudah berkali-kali menghujani bagian lereng dan kaki gunungnya dengan pasir dan debu, namun belum pernah dalam skala sebesar ini. Didorong oleh hembusan angin, hujan debu yang ditebarkan Merapi pada Senin dinihari 22 Juli 2013 itu meluas terutama ke arah barat daya hingga menjangkau sebagian Kabupaten Magelang, Purworejo dan bahkan Kebumen. Debu yang mengguyur jalur Magelang-Muntilan-Sleman bahkan membikin kawasan itu berbedak debu setebal rata-rata 3 milimeter. Tapi uniknya daerah di sisi selatan gunung seperti kota Yogyakarta justru luput dari hujan debu ini. Sehingga transportasi udara melalui Bandara Adisucipto, yang pernah ditutup berhari-hari kala letusan besar 2010, tetap berjalan normal.

Kepulan asap putih membumbung dari kawah Merapi seiring Peristiwa 22 Juli 2013, diabadikan dari Tlogolele.  Sumber : BPPTKG, 2013.

Kepulan asap putih membumbung dari kawah Merapi seiring Peristiwa 22 Juli 2013, diabadikan dari Tlogolele.
Sumber : BPPTKG, 2013.

Sempat muncul kekhawatiran bahwa hujan debu Merapi yang di luar kebiasaan ini adalah pertanda siklus letusan gunung berapi terlasak se-Indonesia tersebut telah kembali datang menjelang. Secara rata-rata Gunung Merapi memang meletus setiap 2 hingga 5 tahun sekali berdasarkan catatan dalam kurun 100 tahun terakhir. Ada pula yang mencoba mengaitkannya ke dalam ranah mistis, mengingat hujan debu itu terjadi hampir bersamaan dengan peringatan 1.000 hari peristiwa letusan besar 2010 yang menelan banyak korban jiwa.

Batuk

Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) yang menjadi induk dari segala aktivitas pemantauan Gunung Merapi menyatakan hingga saat ini status Gunung Merapi adalah aktif normal. Dari empat tingkat dalam pemeringkatan aktivitas sebuah gunung berapi di Indonesia, Gunung Merapi menempati tingkat terendah (level 1). Memang terdeteksi adanya peningkatan aktivitas kegempaan selama periode 15 hingga 22 Juli 2013, yakni dalam wujud terjadinya 10 gempa vulkanik dangkal, 27 gempa multifase, 66 gempa guguran dan 87 gempa frekuensi panjang. Bandingkan dengan situasi seminggu sebelumnya (7 hingga 14 Juli 2013), yang hanya mencatat adanya 1 gempa vulkanik dangkal, 5 gempa multifase dan 15 gempa guguran tanpa adanya gempa frekuensi panjang. Namun parameter lainnya, yakni jarak antara pos-pos pengamatan dengan tubuh Gunung Merapi dalam pengukuran EDM (Electronic Distance Measurement) ternyata relatif tak berubah. Misalnya pada pos Selo hanya terjadi perubahan sebesar +1 milimeter saja, demikian pula pos Kaliurang (+9 mm), Babadan (-4 mm) dan Jrakah (-3 mm), yang semuanya masih di bawah angka 10 milimeter. Demikian pula dengan kemiringan lereng berdasarkan pengukuran tiltmeter di Plawangan, Labuhan, Klatakan dan Pasarbubar, semuanya menunjukkan tiadanya perubahan kemiringan berarti.

Peta distribusi debu Merapi produk Peristiwa 22 Juli 2013 berdasarkan pemodelan BPPTKG. Beda warna menunjukkan beda ketebalan endapan debu vulkaniknya. Sumber : BPPTKG, 2013.

Peta distribusi debu Merapi produk Peristiwa 22 Juli 2013 berdasarkan pemodelan BPPTKG. Beda warna menunjukkan beda ketebalan endapan debu vulkaniknya. Sumber : BPPTKG, 2013.

Lalu, mengapa terjadi peristiwa 22 Juli 2013?

Secara sederhana bisa dikatakan pada saat itu Gunung Merapi sedang ‘terbatuk’ atau ‘bersin.’ Indikatornya adalah lonjakan sejumlah aktivitas kegempaannya. Secara teknis hal ini merupakan erupsi. Namun ‘batuk’atau ‘bersin’-nya Gunung Merapi itu tidak disebabkan oleh masuk berjejal-jejalnya magma segar ke dalam tubuh gunung setelah mengalir dari dapur magma nun jauh di kedalaman sana. Absennya gempa vulkanik dalam, yang adalah indikator gerakan fluida (magma) nun jauh di bawah permukaan Bumi, menunjukkan hal itu. Pun dengan tidak berubahnya jarak antar pos ke tubuh Gunung Merapi dan tidak berubahnya kemiringan lereng, yang menunjukkan bahwa tidak ada magma segar yang memasuki tubuh gunung.

Dasar kawah Merapi, diabadikan pada 5 Juli 2013 lalu. Nampak kilatan merah membara dari magma yang mengintip di dasar kawah, dengan sedikit kepulan gas vulkanik diatasnya. Di latar belakangnya nampak dinding kawah nan curam, yang sesungguhnya adalah sisa-sisa kubah lava dari letusan-letusan Merapi sebelum 2010. Sumber : BPPTKG, 2013.

Dasar kawah Merapi, diabadikan pada 5 Juli 2013 lalu. Nampak kilatan merah membara dari magma yang mengintip di dasar kawah, dengan sedikit kepulan gas vulkanik diatasnya. Di latar belakangnya nampak dinding kawah nan curam, yang sesungguhnya adalah sisa-sisa kubah lava dari letusan-letusan Merapi sebelum 2010. Sumber : BPPTKG, 2013.

Jadi, apa penyebabnya? ‘Batuk’ Merapi lebih disebabkan oleh solah-tingkah magma sisa letusan 2010 yang masih ada di saluran magma. Sebuah gunung berapi selalu memiliki saluran magma sebagai penghubung kantung magma dengan kawah di puncak/tubuh gunung. Setiap kali gunung berapi tersebut meletus, selalu masih ada magma yang tertinggal dalam saluran magma tanpa sempat muncul di kawah sebagai lava, khususnya tatkala periode suatu letusan telah berakhir. Magma yang kehilangan dorongan dari bawah akhirnya terjebak di dalam saluran magma tanpa bisa keluar. Dengan batuan adalah penghantar panas yang buruk, maka magma sisa yang terjebak ini dapat terus membara bahkan hingga berpuluh-puluh tahun kemudian. Barulah bila ada tambahan tekanan maka sebagian kecil magma sisa ini bisa menyembul dari kawah. BPPTKG dan sejumlah pendaki Gunung Merapi telah berkali-kali menjumpai sembulan magma di dasar kawah Merapi sebagai lava membara bersuhu lebih dari 600 derajat Celcius.

Lonjakan gempa vulkanik dangkal, yang hanya bisa terjadi bila ada pergerakan fluida (bisa magma namun bisa juga gas) tepat di bawah gunung pada kedalaman sumber yang dangkal, pada ‘batuk’ Merapi 22 Jujli 2013 lalu menunjukkan terjadi gerakan fluida sangat dangkal. Dengan tiadanya lelehan magma dari kawah sebagai lava membara serta sedikitnya volume debu yang dihembuskan saat ‘batuk’ menunjukkan aktivitas Gunung Merapi kali ini lebih disebabkan oleh semburan gas bertekanan tinggi dalam upayanya mencari jalan terobosan setelah terkungkung. Begitu menemukan jalur yang lemah, gas bertekanan tinggi ini lantas menghembuskan kekuatannya. Tekanan yang sama pula yang menyebabkan kubah lava Merapi terbaru bergetar sehingga beberapa bagiannya rontok, seperti terlihat dari lonjakan gempa guguran dan gempa multifase.

Freatik

Meski mungkin lebih disebabkan tekanan gas, namun magma sisa letusan 2010 tetap berperan penting dalam ‘batuk’ Merapi ini. Letusan besar 2010 menyebabkan Gunung Merapi berubah dramatis. Di puncaknya terbentuk kawah (cekungan) besar tak sempurna seiring robeknya sebagian dindingnya. Di dasarnya terdapat muara saluran magma Merapi. Dan berbeda dengan kejadian-kejadian letusan Merapi sebelum 2010, saluran tersebut kini relatif terbuka tanpa banyak terhalangi material yang mulai membatu dari berbagai kubah lava yang saling menumpuk hingga tinggi. Dengan terbukanya saluran magma, maka air hujan dapat lebih mudah memasukinya ketimbang saat tertutupi deretan kubah-kubah lava. Meski magma di muara saluran magma umumnya sudah membeku dan mulai membatu sehingga bisa lebih kedap air, namun jika hujan turun lebih sering maka dasar kawah Merapi akan demikian jenuh air sehingga mulailah air meresap ke dalam tubuh gunung. Dan bila terjadi persentuhan dengan magma sisa letusan 2010 di bawah kawah, yang masih panas membara, maka penguapan pun dimulai.

Jika tidak ada penghalang, uap air dengan leluasa bakal menghembus dari kawah sebagai kepulan. Namun jika terhalangi misalnya oleh bagian-bagian magma yang mulai membeku dan membatu, maka uap air yang tak menemukan jalan keluarnya itu akan berkumpul. Ditambah dengan kecenderungan keluarnya gas-gas vulkanik dari magma saat magma di dekat permukaan bumi membuat uap air itu bercampur dengan gas-gas ini sehingga tekanannya lebih besar lagi. Seiring perjalanan waktu, jumlah uap air dan gas vulkanik terus bertambah sebelum akhirnya keluar sebagai hembusan. Tetapi apabila penghalangnya demikian kuat dan tebal, akumulasi uap air dan gas vulkanik hingga jumlah cukup banyak takkan terhindarkan lagi sehingga tekanannya kian lama kian meningkat sampai demikian tingginya. Pada akhirnya batuan yang menghalanginya tak sanggup lagi menahan tekanan sehingga jebol. Uap air pun mengalir deras dan lantas menyembur keluar lewat kawah sembari menyeret material batu, pasir dan debu bersamanya. Secara teknis peristiwa ini dinamakan erupsi freatik.

Salah satu kejadian hembusan uap air dari puncak Gunung Merapi, yang terjadi pada 28 Juni 2013. Sumber : BPPTKG, 2013.

Salah satu kejadian hembusan uap air dari puncak Gunung Merapi, yang terjadi pada 28 Juni 2013. Sumber : BPPTKG, 2013.

Petunjuk ‘batuk’ Merapi ini berasal dari uap air yang terbentuk akibat persentuhan air dan magma sisa letusan 2010 tersirat dari curah hujan di kawasan Gunung Merapi. Meski sejatinya telah memasuki musim kemarau, namun dengan tetap tingginya suhu air laut di sekitar Indonesia maka terjadi situasi kemarau basah, dimana jumlah uap air di udara Indonesia tetap tinggi sehingga hujan tetap sering mengguyur. Dan sepanjang Juli 2013 ini hujan masih kerap terjadi di kawasan Gunung Merapi, yang pada umumnya berupa gerimis atau hujan berintensitas kecil. Meski demikian sempat juga terjadi hujan berintensitas sedang seperti terekam di pos pengamatan Jrakah dan Ngepos. Sebelum ‘batuk’ kali ini, Gunung Merapi sudah berkali-kali menghembuskan uap airnya sebagai asap. Terakhir misalnya pada 29 Juni 2013 silam saat asap mengepul hingga setinggi sekitar 100 meter dari puncak dengan tekanan lemah.

Petunjuk lain ‘batuk’ Merapi 22 Juli 2013 disebabkan oleh erupsi freatik juga nampak dari survei cepat yang dilakukan Agung Harijoko dkk pada Senin siang itu pula, setelah debu mereda. Meski dihadang sejumlah kesulitan seiring terbilasnya debu oleh curah hujan yang datang kemudian, namun sejumlah sampel dari hujan debu akibat ‘batuk’-nya Merapi hari itu berhasil diperoleh khususnya di Kinahrejo, bekas tanah tumpah darah almarhum Mbah Maridjan. Sampel debu tersebut ternyata mengandung remah-remah batuan dan mineral berkristal khas untuk magma sisa letusan, tanpa kehadiran magma segar. Sehingga ‘batuk’ Merapi itu berkemungkinan besar memang berupa erupsi freatik.

Aktif Normal

Apakah ‘batuk’ ini menandakan Gunung Merapi mulai menggeliat kembali dan bakal segera meletus?

Pada dasarnya sebuah gunung berapi yang akan meletus selalu didului mengalirnya magma segar dari kedalaman Bumi oleh faktor-faktor tertentu, baik internal maupun eksternal. Salah satu faktor yang kerap memicu adalah gempa tektonik, yang membuat dapur magma berguncang sehingga isinya menjadi bagaikan minuman bersoda yang baru dikocok. Aliran magma segar bakal tecermin dari gempa vulkanik dalam yang melonjak di atas normal. Aliran magma segar bakal berujung di kantung magma, sebuah penampungan magma yang terletak tepat di bawah gunung. Dari sini magma harus berjuang keras mengerahkan tekanan tingginya untuk memecahkan magma sisa letusan sebelumnya yang sudah mulai membeku dan membatu. Upaya ini bakal terlihat dengan melambungnya jumlah gempa vulkanik dangkal jauh di atas normal sekaligus mulai berubahnya jarak pos-pos pengamatan dengan tubuh gunung serta perubahan kemiringan lereng akibat mulai menggelembungnya tubuh gunung. Bila magma segar ini sudah cukup dekat dengan permukaan Bumi, ia sanggup memanaskan batuan disekelilingnya sehingga mengubah air bawah tanah menjadi uap yang terkumpul kian banyak dan akhirnya menyembur keluar dari kawah sebagai erupsi freatik. Jika magma sudah cukup dekat sehingga langsung bersentuhan dengan air bawah tanah, maka mulailah terjadi erupsi freatomagmatik, saat yang tersembur dari kawah tak hanya uap air namun juga remah-remah batu, pasir dan debu dari permukaan magma segar yang sontak membeku dan membatu saat air mendinginkannya secara mendadak. Dan bila magma segar sudah sampai di kawah, maka mulailah terjadi erupsi magmatik dengan segala variasinya.

Rekaman kegempaan Gunung Merapi sepanjang 2013. Kotak merah (kanan) menandakan rekaman di bulan Juli 2013 saja. Nampak adanya peningkatan kejadian gempa frekuensi panjang (LHF), vulkanik dangkal (VB) dan multifase (MP). Namun gempa vulkanik dalam (VA) absen. Sumber : BPPTKG, 2013.

Rekaman kegempaan Gunung Merapi sepanjang 2013. Kotak merah (kanan) menandakan rekaman di bulan Juli 2013 saja. Nampak adanya peningkatan kejadian gempa frekuensi panjang (LHF), vulkanik dangkal (VB) dan multifase (MP). Namun gempa vulkanik dalam (VA) absen. Sumber : BPPTKG, 2013.

Dengan runtunan tersebut, sulit untuk mengatakan ‘batuk’ Merapi kali ini sebagai pertanda ia mulai menggeliat seiring absennya aliran magma segar, setidaknya untuk saat ini. Karena itu status Gunung Merapi tetap berada dalam tingkat aktif normal sehingga tak ada yang perlu dikhawatirkan.

Rekaman curah hujan di sekitar Gunung Merapi sepanjang 2013. Kotak merah (kanan) menandakan curah hujan di bulan Juli 2013 saja. Sumber : BPPTKG, 2013.

Rekaman curah hujan di sekitar Gunung Merapi sepanjang 2013. Kotak merah (kanan) menandakan curah hujan di bulan Juli 2013 saja. Sumber : BPPTKG, 2013.

Namun begitu kesiapsiagaan mutlak diperlukan, karena berbeda dengan letusan pada umumnya, peristiwa ‘batuk’ Merapi jauh lebih sulit diprediksi kapan bakal terjadi dan seberapa besar skalanya. Di sisi lain berubahnya wajah Merapi pasca letusan besar 2010, yang salah satunya membuat saluran magmanya menjadi terbuka, menyebabkan potensi terjadinya ‘batuk’ seperti ini lebih tinggi terlebih dalam musim penghujan ataupun dalam situasi kemarau basah seperti tahun ini. Padahal tebaran debu di udara dari ‘batuk’ Merapi ini tetap sanggup menimbulkan gangguan kesehatan, khususnya pada anak-anak dan kalangan lanjut usia. ‘Batuk’ Merapi yang selalu tiba-tiba juga cukup berbahaya bagi kegiatan pendakian gunung. Atas alasan ini pula Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), sebagai induk dari BPPTKG, sedang mempertimbangkan untuk menaikkan status Gunung Merapi ke Waspada (level 2). Kenaikan ini bukan sebagai isyarat bahwa Gunung Merapi sedang menggeliat untuk meletus kembali, namun lebih sebagai upaya membangun kesadaran bersama bahwa Gunung Merapi kini sudah berubah dan perilakunya tak seperti dulu lagi. Namun kesiapsiagaan juga senantiasa dibutuhkan seiring terus berdetiknya jarum jam Merapi menuju ke puncak siklus letusan 2 hingga 5 tahunan, sementara bagaimana gelagat letusan Merapi mendatang sulit ditebak khususnya pasca letusan besar 2010.